Pestol diarahin ke pelipis gua, moncongnya nempel, berasa dinginnya.
“Pesawat atau kereta?!”
Kereta!

Aman. Pestol gak meletus, disimpan kembali. Kalaupun gua jawab “pesawat”, gak bakal napa-napa juga sih. Lagi ngayal aja. Di atas kereta. Argo Muria. Jakarta-Semarang.


Gak tau sejak kapan gua mencintai kereta.
Karenanya, kalau memungkinkan, sebisa mungkin memungkinkan, gua pilih naik kereta api ini, perjalanan 5 jam 10 menit, dari Stasiun Gambir ke Stasiun Tawang. Atau misalnya, daripada mendarat langsung di airport Berlin, gua lebih memilih mendarat di airport Amsterdam, terus baru naik kereta ke Berlin. Atau lebih memilih naik kereta dari Edinburgh ke London, menikmati 5 jam perjalanan menyusur garis pantai, beserta keindahan landscape dan bangunan-bangunan khas Britania Raya. Atau dari Xining ke Lhasa, kenikmatan pengalaman 24 jam siang-malam-siang di atas badan kereta, dengan “kemewahan” pemandangan yang muncul dan berlalu, berganti-ganti. Entahlah, suka aja.


Gak tau sejak kapan gua mencintai kereta. Mungkin di pulau kelahiran gua sana, Kalimantan, gak ada kereta. Setelah keluarga gua eksodus ke Jakarta, gua -SD kelas IV- baru ngeliat yang namanya kereta api. Waoowww! (Abang gua saban sore malah nongkrong di jalan raya deket palang pintu rel, nungguin kereta lewat, norak banget dia, udik!) Mungkin karena itu, bokap gua iba sama anak-anaknya, dibeliinlah mainan kereta-keretaan berbaterai, lengkap dengan relnya yang memutar, yang dari cerobongnya bisa keluar asep setelah diisi minyak mesin jahit nyokap gua. Cool! (“Heeiii, siapa yang ngabisin minyak mesin ini yaaa…?!”) Soal mengagumi kereta, gua lebih berkelaslah, minimal pernah menyusuri jalan rel kereta api, siang-siang bolong, dari stasiun kereta di Stasiun Kota sampai deket rumah di kawasan Gunung Sahari. (Temen gua, masih sama-sama pakai seragam SMP, ngasih tebakan, “Kenapa di rel kereta isinya batu semua?” Lantas dia jawab sendiri, “Kalau isinya donat, ya lu makanin dong!” Jiah, garing, tebakan gak berkelas.)


Gak tau sejak kapan gua mencintai kereta. (Seinget gua, gua gak pernah nulis di buku kenang-kenangan temen gua, cita-cita: “Masinis”.) Mungkin karena di atas kereta, gua menikmati goncanganya, lembut dan kasar, kiri dan kanan. Bunyi “merdu” hasil gesekan roda besi dan rel, konstan jeg-jeg-jeg-jeg, plus liukan antar gerbong-gerbongnya. Diselingi bengong, dan sesekali kantuk. Walaupun kadang terganggu dengan dengkuran keras di salah satu kursi (masih bisa dimaklumi), atau suara gadget yang disetel keras pemiliknya di salah satu kursi lainnya (kalau ini gak tau budi pekerti). Pemandangannya, ratusan kilometer, sebut saja mau lihat apa. Bangunan aneka rupa, dari gedung bertingkat di kota hingga gubuk di pinggir rel, plus bonus kalau beruntung, pemakaman. Pak dan buk petani di pematang sawah, hamparan hijau dan kuning, langit biru dan putih. Mobil, motor, gerobak, orang, mematung disiplin di balik palang, menunggu gua lewat. (Gua berasa VVIP, dengan kerelaan mereka untuk memberi jalan, gak macam hari-hari ini bunyi “tattettot” di jalan raya yang gak tau diri selalu minta diprioritaskan itu.) Kereta yang sekarang “dilepas” dengan hormat di stasiun, dengan barisan personelnya, tangan menyilang di dada, respectful, dan yang “pramugari-pramugari”-nya jauh lebih membumi, dibanding koleganya di atas sana, yang terbang di antara awan-awan itu, yang gak bisa membedakan dengan awang-awang.

Dah ah, jeg-jeg-jeg-jeg, tuuttt…

Argo Muria, 7 Februari 2025

NH

Nicky Hogan's avatar
Posted by:Nicky Hogan

Nicky menjalani hidup limapuluh tahun, gemar berlari empatpuluh tahun, merambah alam tigapuluh tahun, bekerja di pasar modal duapuluh tahun, suka menulis sepuluh tahun. Dan inilah tulisannya.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.